Beberapa hari belakangan ini, masyarakat Indonesia fokus perhatiannya tertuju pada virus Corona atau Covid-19. Bahkan tidak hanya sekedar menyedot perhatian, Corona juga menimbulkan efek kepanikan bagi sebagian masyarakat. Hal ini seiring adanya fakta baru bahwa jumlah penderita Corona di Indonesia semakin bertambah saban harinya.

Perkembangan  Covid-19 di Indonesia, yakni per 22 Maret 2020 pukul 09.00 WIB, sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Republik Indonesia, menyebutkan sudah ada 450 jiwa yang positif terpapar Corona. Ada 38 orang meninggal dan 20 orang dinyatakan telah sembuh.

Mengingat dan menimbang jumlah kasus warga yang positif Covid-19 semakin meningkat, maka pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang masa darurat bencana wabah penyakit akibat virus Corona menjadi sampai tanggal 29 Mei 2020, dan akan ditinjau berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. 

Sejak Indonesia ditetapkan sebagai darurat Corona, kendali penanganan (komando/instruksi) Covid-19 sepenuhnya berada di pemerintah pusat. Meskipun demikian, dalam konteks pencegahan dan penghentian penyebaran Corona, harus dilakukan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.

Alih-alih bersatu padu dalam melawan Corona, di media sosial utamanya, masyarakat terpolarisasi; mendukung langkah pemerintah dan ada pula yang menyalahkan pemerintah karena dinilai lamban dalam menangani penyebaran Corona. Satu hal yang harus diketahui bersama bahwa virus Corona tak bisa terprediksi dan sulit dikendalikan. Untuk itu, menyalahkan atau membully pemerintah, terutama di media sosial, bukanlah langkah bijak. Terlebih pemerintah telah gencar melakukan berbagai usaha untuk menghentikan penyebaran virus Corona.

Mengandalkan pemerintah dalam menghentikan kurva penyebaran Covid-19 tentu saja merupakan langkah yang tidak tepat, jika tidak ingin dikatakan sebagai langkah konyol. Sebab, inti perosoalan Covid-19 adalah terletak pada aspek penularan yang begitu cepat. Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat, tidak yang tua atau muda, semuanya penting sekali untuk memahami bagaimana mencegah penularan Corona di Indonesia, yang belakangan sudah ada 19 orang meninggal dan ratusan lainnya positif Corona.

Secara sadar dan terencana menjadi pelaku pencegahan. Dan upaya ini, sekali lagi, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, melainkan dibutuhkan kesadaran dari setiap individu. Di sinilah pentingnya menjadi polisi bagi diri sendiri, dalam arti secara sadar dan bertanggung-jawab untuk menjaga diri dari berbagai bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan kesehatan diri dari mana saja dan kapan saja, seperti bahaya virus Corona Covid-19.

Menjadi Polisi bagi Diri Sendiri

Penyebaran Covid-19 tidak bisa diketahui secara pasti. Namun satu hal yang pasti adalah, virus ini menular atau menyebar dari orang atau warga ke warga (antar warga) secara cepat. Dengan menjadi polisi bagi diri sendiri, maka kita akan melakukan tiga hal sekaligus. Pertama berarti kita telah melindungi sendiri dan kedua juga melindungi sesama serta menjadi pelaku atau pelopor pencegahan penyebaran Covid-19 agar tidak meluas dan memakan korban secara ganas.

Adapun menjadi polisi bagi diri sendiri saja tanpa dibarengi dengan pengetahuan tentang cara-cara dan langkah-langkah antisipasi, tidaklah cukup dan tidak akan berdampak signifikan bagi penvegahan penularan virus Covid-19. Oleh sebab itu, setiap dari kita perlu mengetahui dan memahami beberapa hal.

Pertama, mengenal Covid-19. Sebelum melakukan langkah pencegahan dan sebaginya, kita perlu mengetahui dan mengenal apa iru virus Corona. Secara sederhana, virus Corona atau Novel Coronavirus (Covid-19) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia yang sering ditemukan menginfeksi binatang dan bisa menyebar atau menyerang manusia hingga berpotensi mengakibatkan kematian. Adapun orang yang berisiko terpapar virus ini adalah mereka yang berusia 70 tahun ke atas, memiliki riwayat penyakit seperti diabetes dan jantung, dan orang yang memiliki riwayat penyakit sakit pernapasan. Selain itu, orang yang memiliki sistem imunitas lemah juga rawan terpapar Covid-19.

Kedua, mengenali gejala. Meskipun gejala secara pasti terkena virus Corona masih dipelajari secara utuh oleh dokter dan ilmuan, namun ada gejala-gejala umum yang dapat ditemukan dalam kasus Corona.

Ketiga, cara mencegah penyebaran virus. Mencegah berbeda dengan mengantisipasi. Mencegah, sebagaimana penjelasan dalam KBBI, adalah menahan agar sesuatu tidak terjadi. Pemerintah telah memberikan panduan dan himbauan kepada masyarakat luas tentang bagaimana cara mencegah penyebaran virus Corona, yakni dengan membatasi interaksi sosial. Kebijakan ini kemudian diterjemahkan menjadi “kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah”.

Selain itu, langkah-langkah praktis seperti rutin mencuci tangan dengan sabun antiseptik, atau alternatifnya, seperti  hand sanitizer. Tak kalah pentingya juga hindari kerumunan dan  jaga jarak dengan orang di manapun berada minimal 1 meter, terlebih dengan orang yang batuk-batuk atau bersin.

Prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam hal pencegahan penyebaran Corona. Sebab, virus ini tak tampak kasat mata dan gejalanya pun tidak spontan. Sehingga kondisi ini menyebabkan seseorang yang sejatinya sudah ada indikasi terpapar Corona, namun ia terlambat mengetahuinya. Pada saat belum mengetahui inilah yang berpotensi menulari orang lain karena menganggap ia baik-baik saja, begitu pun orang sekitar Anda.

Sementara ini ada anggapan di tengah-tengah masyarakat bahwa dalam rangka menangkal virus Corona, mereka rajin menjaga imunitas tbuh dengan mengkonsumsi suplemen dan vitamin secara masif. Sejumlah pakar kesehatan sepakat bahwa mengkomsumsi suplemen dan vitamin memang dapat menjaga imunitas, namun mereka lebih menganjurkan sering mencuci tangan. Hal ini senada dengan pendapat Caroline Apovian, Direktur Nutrition and Weight Management Center di Boston Medical Center, sebagaimana dikutip dari The Insider, bahwa dalam konteks menjauhkan diri dari Covid-19, langkah yang tepat dan lebih baik adalah dengan rajin mencuci tangan daripada hanya sekedar mengkonsumsi suplemen. Sebanyak apapun suplemen dan vitamin yang dikonsumsi, tidak bisa menjamin orang tersebut kebal atau bebas dari virus Corona, terlebih bila ia melakukan kontak langsung dengan penderita Corona.

Dengan menjadi polisi bagi diri sendiri, maka setiap dari kita secara otomatis adalah orang yang turut aktif dan bertanggung-jawab dalam upaya membendung laju penyebaran virus Corona di Indonesia. Jika yang demikian itu dilakukan secara konsisten dan menjadi gerakan bersama, niscaya tak sampai menunggu lama negeri ini akan bebas dari virus Corona. Semoga!

*Oleh Muhammad Najib, warga Tamu Asrama Sunan Gunung Jati.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.