Doc. TelegramJakarta.com
ASGJ – “Partai butuh perkaderan model H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno dan Karto Soewiryo pada masa lalu di Rumah Peneleh, diberi buku untuk dibaca, dan diskusi. Hal ini dimaksudkan untuk mencetak kader intelektual. Sudahkah partai-partai terutama partai berbasis Islam yang melakukan hal tersebut.” demikian pernyataan Dr. Aji Dedi Mulawarman,  Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, pada diskusi awal tahun “Refleksi Perjalanan Politik Kaum Muslimin di Indonesia” yang digelar di Markas Partai Bulan Bintang, Sabtu, (9/1/2016) siang.

“H.O.S. Tjokroaminoto secara sadar dan langsung telah melakukan pola perkaderan formal dan organik, dalam rangka mencetak tokoh masa depan yang kelak memimpin bangsa Inlander ke arah kemerdekaan.” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu Dedi menyampaikan bahwa pentingnya peranan partai politik Islam dalam membentuk kadernya demi tercipta konsolidasi ummat dalam membangun tatanan bernegara di Indonesia agar penjaringan basis masa dan kader tidak didominasi oleh pola-pola pragmatis transaksional.

“Hal itu menjadi penting sebagai refleksi ummat Islam dalam rangka menuju 2024 dimana terjadi konsolidasi ummat yang besar setiap 100 tahun sekali” demikian kata Dosen yang juga pengasuh Yayasan Rumah Peneleh ini.

“Sejak 1924 ditarik mundur ke 1824 zaman Diponegoro, ditarik mundur lagi ke tahun 1524 pada masa Pangeran Sebrang Lor, bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam siklus 100 tahunan dari hadits mujtahid selalu ada konsolidasi ummat.” Dedi melanjutkan.

“Maka apa yang sudah dipersiapkan partai islam dalam rangka mengkonsolidasikan ummatnya? sudahkah parpol Islam mendongrak tren suaranya sejak 1955 hingga 2014 ini.” lanjutnya.

Diskusi yang diadakan oleh DPP Partai Bulan Bintang bekerjasama dengan Yayasan Rumah Peneleh tersebut juga dihadiri oleh Teguh Esha dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.

Teguh Esha secara blak-blakan dan lugas menyatakan yang dibutuhkan oleh Muslimin bukan saja di Indonesia tapi di seluruh dunia ini adalah Al-Qur’an

“Al-Qur’an sebagai satu-satunya ‘guidance’ ‘Hudan’ yang tidak ada keraguan di dalamnya. Anda sebagai muslimin harus memegang kitab suci ini, maka tinggalkan yang lain.” demikian kata penulis novel tahun 70an, Ali Topan Anak Jalanan ini.

Teguh juga mengeritik partai-partai agar sudah saatnya tidak hanya melakukan diskusi yang bersifat wacana ilmiah, tetapi juga melakukan aksi nyata yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak terlibat wacana perpecahan seperti Sunni-Syiah.

“Zaman nabi tidak ada Sunni-Syiah, kalau ditanya Nabi (Muhammad) Islamnya apa? Sunni atau Syiah? tidak ada. Pijakan kita hanya satu, Al-Qur’an Kalamullah. Anda pakai ini atau jatuh kehancuran kepada anda.” lanjut teguh.

“Sekarang jangan ngomong aja, lakukan dan tuntaskan. Judul diskusi ini saja sudah salah, tidak ada ummat muslim. Yang ada muslimin dan mukminin.” lanjut Teguh.

Diskusi yang dihadiri oleh ratusan kader partai berlambang bulan dan bintang menyala tersebut dimoderatori oleh Syahrul Efendi Dasopang, mantan Ketua Umum PB HMI (MPO) 2008-2009.

Yusril: “Belajar dari Malaysia, Bangsa Melayu Harus Jadi Tuan di Negeri Sendiri”

Dalam diskusi itu, Yusril lebih berfokus kepada bagaimana peran partai politik melahirkan kader unggulan yang bisa masuk di semua bidang, sehingga kantong-kantong ekonomi dan teknologi yang strategis bisa diisi oleh bangsa Melayu terutama kaum musliminnya.

“Di Malaysia ada sebuah suratkabar berbahasa Tionghoa, namun pemilik sahamnya orang asli Melayu. Ini menandakan, apapun bisnis yang dilakukan di tanah melayu, harus melibatkan pribumi, sebagai seruan bahwa bangsa tersebut berdaulat atas tanahnya sendiri dan supaya bangsa Melayu menjadi kuat.” kata Yusril.

“Konstitusi Malaysia tegas mengatakan bahwa orang Melayu adalah orang yang bertutur kata menggunakan bahasa Melayu, mengamalkan adat Islam Melayu dan beragama Islam. Jadi jelas Melayu itu Islam.” tambahnya.

“Saat ini perdagangan di Indonesia tidak dikuasai oleh pribumi, sampai ke bidang politik pun kini mulai dikuasai orang asing dari etnis China dan bukan Melayu.” lanjutnya.

“Saya kalau berbicara begini dituduh rasis atau apa terserahlah, tetapi faktanya demikian, orang pribumi Indonesia tidak menguasai sektor-sektor strategis ekonomi, kini mau dijamah pula sampai ke urusan politik, lama-lama bisa Bangsa Melayu kalah oleh bangsa pendatang.” pungkasnya.

Yusril juga mengungkapkan bahwa sudah saatnya kaum muslimin di Indonesia merebut kembali sektor-sektor tersebut, agar menjadi tuan di tanah sendiri dan bisa memberikan kemakmuran yang banyak kepada bangsa dan negaranya.

Diskusi tersebut merangkai sebuah kesimpulan bahwa konsolidasi ummat Islam segera, dan harus bisa membawa perubahan mental dan sosial ke arah yang lebih baik dan menguntungkan ummat Islam sehingga Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dapat terwujud dan Indonesia sebagai ‘kampung Islam’ terbesar dunia dapat menjadi sentral peradaban yang mencerahkan.

Sumber: TelegramJakarta.com

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.