ist
R. Wijaya D.M.*

Bangsa Indonesia telah merdeka 70 tahun silam, telah banyak mengalami perubahan, baik itu sistem pemerintahan, ekonomi, politik maupun mekanisme pemilihan Presiden dan kepala daerah. Hal itu diukur dari kecakapan dan kecerdasan para founding father serta pemimpin Negara kepulauan ini dalam mengelola dan membangun bangsa yang berkemajuan.

Saat ini, arus politik Nasional di Negara yang dikenal dengan budaya santun, ramah dan gotong royong ini, mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan para politisi bekerja sesuai dengan kepentingan golongannya saja, tanpa mementingkan kesejahteraan rakyat kecil. Sehingga mengakibatkan ketimpangan sosial di setiap daerah, yang berujung pada konflik sosial-politik di tengah masyarakat.

Untuk mengatasi persoalan di atas, disinilah peran penting Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)[1] untuk memberikan konstribusi yang nyata untuk Indonesia yang lebih baik. Sebab, mahasiswa masih memiliki independensi – seperti yang dipegang teguh oleh kader HMI MPO[2] – dalam bertindak dan berpikir.

Namun, semenjak HMI pecah menjadi dua pada tahun 1986 terkait asas tunggal Pancasila yang diterapkan pemerintah di bawah Presiden Soeharto. Terjadilah perpecahan besar-besaran, yang mengakibatkan HMI sibuk dengan urusan internal. HMI yang masih berpegang teguh pada asas Islam, menamakan dirinya HMI Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) dan HMI yang menerima asas tunggal Pancasila, disebut HMI Dipo lantaran alamat kantor Pengurus Besar (PB)-nya berada di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat saat itu.

Hal tersebut di atas berawal dari refresif pemerintah kala itu dengan menerapkan Undang-undang No. 8 Tahun 1985 tentang keormasan yang mewajibkan penerapan asas tunggal Pancasila bagi seluruh Ormas atau Orsospol di Indonesia. Demikian itu cukup mempengaruhi bagi internal HMI dan menghasilkan semacam sekte[3] dalam organisasi mahasiswa yang selalu mendengunkan yakin usaha sampai ini.

Maka, tidak heran kader HMI MPO terlihat radikal ketika melihat realitas sosial yang buruk, namun pemerintah tidak mampu memberikan solusi yang konkrit. Seperti menjelang turunnya Soeharto dari tahta kepresidennya pada tahun 1998 silam, HMI MPO saat itu membentuk sayap untuk melakukan aksi di jalan demi perubahan bangsa. HMI MPO di Jakarta membentuk Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ), di Yogyakarta dengan Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta (LMMY) dan di Makassar dengan Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Makassar (FKMIM), serta di daerah yang lain pun membentuk organisasi serupa[4].

Belum lagi HMI MPO Cabang Jakarta yang berada di ibu kota Negara, setiap saat merasakan lansung pergolakan yang tengah terjadi. Hal tersebut lantaran arus informasi yang semakin cepat, membuat kader hijau hitam ini cepat merespon ketika pemerintah pusat lamban dalam menangani sebuah persoalan. Dan itu menjadi konsekuensi logis bagi kader ulul albab, yang senantiasa sadar akan indentitas melekat pada diri mereka masing-masing. Sehingga, tidak jarang pula kader HMI MPO ditangkapi oleh aparat yang berwajib karena gerakan radikalnya[5]. Inilah yang membedakan HMI MPO dengan organisasi mahasiswa lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini HMI MPO tetap ada dan masih diminati oleh kalangan mahasiswa yang memiliki sikap independen. Dan HMI Cabang Jakarta, kini HMI MPO Cabang Jakarta merupakan salah satu cabang yang menolak untuk diberlakukannya asas tunggal Pancasila pada saat itu. Sehingga konsekuensinya adalah bergerak secara senyap untuk tetap eksis di tengah pragmatisme. Namun, pada akhirnya HMI di Jakarta juga terbagi dua (HMI MPO dan HMI Dipo) dan masing-masing melakukan perekrutan kader, serta bergerak sesuai koridornya.

Terlebih lagi bagi HMI MPO Cabang Jakarta, cukup merasakan derasnya refresif pemerintah terhadap organisasi yang tidak diinginkan keberadaannya. Saat itu, pola perkaderannya melakukan taktik dan strategi agar tidak terendus oleh aparat keamanan. Sebab, pihak pemerintah tidak segan-segan menangkapi mereka jika terbukti melakukan kegiatan, apalagi terlihat simbol-simbol organisasi HMI MPO[6].

Menurut penulis, HMI MPO Cabang Jakarta mampu melawati rintangan yang berat serta tidak sedikit juga kadernya di teror, ditangkapi dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa HMI MPO masih mampu bernafas meskipun tidak pernah disubsidi lansung oleh pemerintah. Bahkan, kader mereka tergolong radikal dalam aksi demonstrasinya dalam menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap pemerintah.

HMI MPO Cabang Jakarta, yang nota bene berada di ibu kota Negara, ia juga bersinggungan lansung dengan pemerintah pusat, baik itu secara sosial, politik maupun ekonomi. Namun, tetap menjaga sikap independensi demi keutuhan organisasi agar terhindar dari intervensi pemerintah dalam menentukan sikap organisasi.

[1] HMI merupakan organisasi kemahasiswaan yang didirikan oleh Ayahanda Lafran Pane beserta kawan-kawannya pada 5 Februari 1947 silam di Yogyakarta. HMI berdiri dengan tujuan untuk menghimpun mahasiswa Islam dan memberikan pemahaman, serta kadernya mampu berperilaku sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Lafran Pane bersama-sama dengan Kartono, Dahlan Husein dan Maisorah Hilal – mereka merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI), kini Universitas Islam Indonesia (UII) – melakukan pertemuan untuk membicarakan sebuah perkumpulan untuk mewadahi mahasiswa Islam. Dari percakapan mereka, membahas tentang tantangan zaman dan menyusun sebuah pedoman yang akan menjadi acuan bagi kaum intelektual muda Islam. Lihat Victor Immanuel Tanja, Himpunan Mahasiswa Islam, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991, cet. Ke-2.

[2] Khittah Perjuangan

[3] Sekte: aliran atau golongan yang membedakan satu diantara yang lainnya.

[4] Sabara Nuruddin, HMI MPO: Ideologi dan Gerakan, Makassar: Cara Baca, 2014, h. 120

[5] Radikal, meminjam kata yang digunakan Kanda Ubaidilah Badrun dalam bukunya, Radikalisasi Gerakan Mahasiswa: Kasus HMI-MPO. Jakarta: Media Raushanfer. 2006.

[6] Percakapan dengan Kanda Ubaidilah Babdrun pada Jum’at, 11 Desember 2015 di kampus Universitas Negeri Jakarta terkait sejarah HMI MPO Cabang Jakarta.

*Sekretaris Umum HMI Cabang Jakarta

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.