ist
                                                          
                                                                 R. Wijaya DM*

Siapa pun akan sepakat bahwa mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) dan harapan masa depan bangsa. Mereka mempunyai tanggung jawab moral dalam menentukan nasib bangsa ke depan. Hal ini, semestinya di jadikan tolak ukur terutama bagi mahasiswa yang berkecimpung di organisasi, baik intra maupu ekstra. Peranannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam merespon problematika sosial, inilah tipologi mahasiswa yang sebenarnya. Mahasiswa tipe ini, bukan hanya aktif bergelut di wadah organisasinya, mereka pun dituntut untuk berperna aktif dan memiliki kepekaan sosial terhadap permasalahan di sekitarnya. Idealisme mahasiswa yang sejati tidak akan terkontaminasi oleh orang-oranmg yang tidak bertanggung jawab dan mereka tidak akan terjebak ketika situasi memaksa untuk bersikap pragmatis.

Kecelakan Historis

Selama 32 tahun rakyat Indonesia ditindas dan berada di bawah tirani rezim orde baru yang otoriter. Kini, rakyat Indonesia telah keluar dari kungkungan penindas, dan telah menghirup udara segar demokrasi. Tetapi, yang menjadi persoalan kemudian, ternyata manifestasi politik yang dialami oleh bangsa Indonesia, harus disikapi dengan kriti membangun. Karena reformasi yang dialami oleh rakyat Indonesia ini sering dipahami dengan kurang arif dan bijaksana. Seperti, kebebasan yang cenderung kebablasan, kurangnya menghargai hak-hak orang lain, dan ada kecenerungan untuk menghancurkan kantor-kantor pemerintahan. Sebagai bukti konkrit, penjarahan pada tahun 1998 yang terjadi di tanah air, terbunuhnya jutaan orang, mahasiswa, petani,rakyat jelata ditembak mati hingga peristiwa Trisakti 12 Mei 1998, dan termasuk Peristiwa Semanggi 13 November pada era BJ. Habibie.

Memang, bisa dikatakan bahwa tindakan anrkis tersebut, merupakan manifestasi politik dari rakyat yang telah mengalami kekecewaan, ketakutan, dan kecemasan selama 32 tahun d bawah rezim orde baru. Ketika semua itu telah hilang seiring dengan runtuhnya rezimtersebut, maka terjadi ledakan alam bawah sadar rakyat Indonesia yang hidup di bawah tekanan dan keakutan, karena gaya pemerintahan yang sewenang-wenang. Bangsa Indonesia mengalami ketidakteraturan dan pada tingkat tertentu terjadi kekacauan. Semua ini, hanyalah masa transisi menemukan arah formula yang baik.

Disinilah perlunya rethinking, bahwa rezim orde baru sebuah sistem, masih sangat terlalu kuat saat ini. Pada dasrnya, keberhasilan gerakan atau demonstrasi mahasiswa hanya mampu menurunkan atau melengserkan Soeharto saja. Hal ini, seperti diungkapkan oleh M. Fadjroel Rachman (2007: 5) seorang sosialis dan aktif di Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara, yang menyatakan bahwa secara teoritis dan praktis, tidak mungkin kita akan merebut, mempertahankan, dan memperluas gagasan (ideas), kekuatan (forces), dan juga membangun relasi kekuatan demokrkasi bersama elemen-elemen dari tahap otoriter-totaliter yang anti demokarasi tersebut. Ungkapan di atas bisa dibenarkan, karena yang terjadi adalah tuimbangnya seorang penguasa otoriter, dimana tidak secara otomatis diikuti oleh tumbangnya sistem politik yang mendukungnya. Karena sampai hari ini, sistem politik orde baru masih kuat, indikasinya bisa bisa ditelusuri dengan melihat masih kuat dan dominannya militerisme dalam pemerintahan., hukum belum bisa menjadi panglima—dengan masih banyak kasus-kasus pelanggaran hukum yang tidak dituntaskan hingga sampai menumpuk—, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih terus terkontaminasi di tubuh birokrasi.

Hambatan Reformasi

Setidaknya menjaga reformasi bukanlah persoalan mudah, dimana seharusnya reformasi ingin membangun masyarakat madani, ternyata harus terhalang oleh berbagai permasalahan. Dan ternyata hambatan besar kini tengah dihadapi oleh komponen-komponen bangsa ini dalam menjaga reformasi. Permasalahan-permasalahan tersebut, setidaknya ada tiga hal.

Pertama, adanya konflik elit yang tidak sehat, dan belum ditemukan formula yang bisa mengakhiri konfliktersebut. Atau adanya obat mujarab yang mendorong konflik kea rah terwujudnya pada titik kompromi dari elit yang berkonflik tersebut.

Kedua, belum adanya rumus yang ampuh untuk mengobati dalam rangka pemulihan ekonomi. Bangsa Indonesia masih did era oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan dan terkatung-katung dala ketidakpastian kapan berakhirnya krisis yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Ketiga, adanya persoalan diseputar bagaimana melahirkan atau menciptakan social order atau political order yang tepat dan baik. Karena, sepertinya bangsa Indonesia telah mengalami kegagapan dalam mengaktualisasikan kebebasannya yang hadir pada suasana ketidakpercayaan pada sistem ekonomi, dan bangunan psikologi masyarakat yang sedang resisten terhadap perangkat-perangkat baru yang berasal dari pemerintahan. Dan yang terakhir, ini penting juga, yakni dibutuhkan kerja keras dalam mengembangkan social order atau political order yang tepat.

Emansipasi Mahasiswa

Pada ranah ini, peran mahasiswa dinantikan oleh bangsa, sebuah pemikiran yang progresif dalam bentuk nyata. Tentunyan dalam mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik, dan diperlukan kapsitas intelektual untuk menyikapinya. Karenanya, kita harus bangkit dengan kebebasan berekspresi melakukan perubahan melalui “berfikir, dialog, dan gerakan”. Ketiga hal ini, merupakan sala satu cara unutuk mengetuk hati yang beku untuk perubahan.

Yang menjadi problem mendasar adalah siapkah kita menjadi kaum progresif? Kaum dengan corak pemikiran modern, terdidik, dan cemerlang. Sehingga respon sosial yang sering dilakukan oleh kalangan intelektual merupakan bukti konkrit dala gerakan. Mereka selalu bersama rakyat meneriakkan “people united resist” dalam aksi massa. Tapi, sring kali wakil rakyat tidak menghiraukan aspirasi dari kelas bawah. Mereka lupa, bahwa mempunyai tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat.

Kaum intelektual mulai sekarang harus menuju arah yang dinamis, dan kita harus memberikan solusi dengan kritis dan aksi membangun dalam menghadapi permasalahan bangsa. Maka, perlu adanya control terhadap pemerintah atas realisasi program-program, sekaligus ikut andil didalamnya. Demi terciptanya tatanan demokrasi modern yang mempunyai kekuasaan politik untuk diterjungkan ke dalam sistem sosial. Sehingga kekuatan politik demokratis menjadi langkah strategis dalm menjalankan gagasan demokrasi.

*Penulis adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta dan warga Asrama Sunan Gunung Jati (ASGJ)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.