ASGJ : Dalam menyambut pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tujuh bursa saham di kawasan Asia Tenggara tengah memfasilitasi para broker (pialang) dari setiap anggota ASEAN untuk menjajaki potensi kolaborasi.

Tujuh bursa itu ialah Bursa Efek Indonesia (BEI), Bursa Malaysia, Philppine Stock Exchange, The Singapore Exchange, Stock Exchange of Thailand, dan dua bursa Vietnam, yakni Hanoi Stock Exchange dan Ho Chi Minh Stock Exchange.

Dirut BEI Ito Warsito mengatakan kolaborasi tersebut bisa berdampak pada peningkatan jumlah emiten dan nilai kapitalisasi pasar di ASEAN.

Pada 2011, total emiten di ASEAN melebihi 3.600, dengan nilai kapitalisasi pasar US$1,8 triliun. Per akhir tahun lalu, jumlah itu menjadi 3.723 emiten dengan nilai kapitalisasi pasar US$2,3 triliun.

"(Target saat MEA) setinggi-tingginya. Berapa pun potensi yang belum tergarap selama ini," kata Ito seusai membuka ASEAN Broker Conference & Networking 2015, di Bali, Sabtu (14/3).

Namun, kerja sama broker juga perlu didorong regulator. ASEAN sudah menggulirkan program ASEAN Link yang menghubungkan bursa-bursa saham di kawasan. Saat ini, yang sudah terkoneksi ialah bursa Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Konektivitas itu memungkinkan investor Malaysia untuk membeli saham di Singapura via broker Malaysia, tanpa perlu berhubungan langsung dengan broker Singapura.

Namun, bursa saham Indonesia belum terkoneksi karena dipayungi regulasi yang lebih ketat ketimbang standar ASEAN. Umpama baru Indonesia yang menerapkan single investor identity sebagai pengejawantahan transparansi portofolio efek. Demikian pula soal penjaminan. Indonesia sudah memiliki PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI).

"Mereka belum menerapkan. Kita harus ada dulu mekanisme penyelesaian sengketa bersama. Misalnya, investor Malaysia sudah beli, tapi pada saat bayar, mereka tidak jadi, siapa tanggung jawab?"

Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida mengamini ketatnya aturan di Indonesia, Umpama soal keterbukaan informasi penawaran umum saham yang lebih tegas daripada ASEAN Disclosure Standards. "Di kita, investor harus mengungkapkan penggunaan dana hasil penawaran umum. Di standar ASEAN tidak," ia mencontohkan.

Prospek Vietnam
Di kesempatan sama, Dirut Mandiri Sekuritas Abi Prayadi menyatakan sedang menggali potensi kerja sama dengan broker Vietnam. "Kita lihat Malaysia dan Singapura sudah maju. Yang mau kita tuju yang infant, yang baru. Misalnya, Vietnam."

Jumlah penduduk Vietnam yang 92 juta orang dan bursanya yang tergolong baru menjadi alasan bagi Abi. Per Maret 2015, emiten di Vietnam baru 360 dengan nilai kapitalisasi US$1,75 miliar.

Deputy CEO of Hanoi Stock Exchange Nguyen Anh Phong menyatakan sinergi ASEAN ialah peluang sekaligus tantangan bagi broker dan bursa Vietnam. "Saya pikir ini jalan yang baik untuk kondisi pasar modal ASEAN yang lebih baik ke depannya."

sumber (http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/9354/Retas-Kolaborasi-Pialang-ASEAN/2015/03/16).

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.