ilustrasi
                                                  
                                                         R. Wijaya DM*

Mahasiswa merupakan kalangan terdidik, yang biasa juga disebut sebagai agent of change (agen perubahan). Predikat tersebut lantaran ia sudah masuk pada fase berpikir, merumuskan, dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkannya di bangku kuliah terhadap lingkungan sekitarnya. Namun, tidak banyak mahasiswa yang berpikir demikian, karena disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, pertama, apatis terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Kedua, berperilaku hedonis karena dilatarbelakangi oleh materi yang ia miliki. Ketiga, ia tidak sadar akan predikat mahasiswa yang diembannya.

Dari latar belakang di atas, penulis menilai bahwa mahasiswa semestinya paham akan tanggung jawab yang dimilikinya. Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya datang ke kampus, duduk, serta pulang ke tempat tinggalnya (kos). Namun jauh dari pada itu, ia dituntut untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diserap di kampus kepada masyarakat. Sehingga, ilmu yang di dapatkannya mampu berguna dan dirasakan oleh khalayak umum.

Untuk menjawab persoalan di atas, semestinya mahasiswa aktif di salah satu organisasi mahasiswa, baik intra mapun extra kampus. Sebab, di organisasi itu ia akan dididik menjadi mahasiswa yang sadar dan proaktif terhadap persoalan sosial, politik, serta ekonomi di tanah air .

Namun, tidak selamanya akan berjalan mulus, cobaan demi cobaan akan menghinggapinya ketika berhadapan dengan kepentingan sesaat. Sehingga, ia akan diuji independensinya, apakah akan mempertahankan intelektualnya, seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”, ataukah menjual idealismenya?. Dan di saat seperti itulah mahasiswa akan bergulat dengan intelektual yang dimilikinya.

Maka dari itu, mahasiswa diharuskan agar selalu membentengi dirinya dengan nilai-nilai agama yang dianutnya, agar ia tidak terjerumus ke dalam lembah hitam yang menyesatkan. Demikian itu, merupakan salah satu solusi yang tepat agar ia berjalan di atas kebenaran, tanpa melacurkan dirinya kepada materi sesaat.

Apalagi saat ini, pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 28 Maret 2015. Kenaikan tersebut akan berdampak terhadap masyarakat yang berpenghasilan rendah dan akan mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap bahan pokok. Nah, sebagai mahasiswa yang kritis, ia dituntut untuk menyoal persoalan tersebut, dengan turun ke jalan dan meminta kepada pemerintah agar mempertimbangkan ulang kenaikan BBM tersebut. Bahkan, hal itu telah melanggar janji kampanye Jokowi-JK yang dirumuskan dalam Nawa Cita, bahwa mereka akan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Menurut penulis, mahasiswa harus terus mengawal kebijakan pemerintahan Jokowi-JK yang tidak pro-rakyat. Sebab, hal tersebut merupakan tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum terdidik dan kritis terhadap problematika yang tengah terjadi. Dan tidak ada kata kompromi kepada pemerintah, jika mereka tidak berpihak kepada rakyat Indonesia. Karena, pemerintah harus mensejahterakan rakyatnya, bukan malah menyengsarakannya.

Untuk itu, mahasiswa harus selalu memposisikan dirinya sebagai pengontrol sosial atas kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Demikian itu, ia telah memahami predikatnya sebagai kaum intelektual yang mengedepankan nalar kritisnya. 

*Penulis adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta dan  warga Asrama Sunan Gunung Jati (ASGJ)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.