BERLIN - Mahkamah Konstitusi Jerman mencabut larangan penggunaan jilbab bagi guru muslim di seluruh negara bagian. Keputusan yang diumumkan kemarin tersebut merupakan perubahan besar setelah sebelumnya negara-negara bagian di Jerman diizinkan membuat undang-undang untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dan netralitas negara.
   Hakim di Karlssruhe mengatakan larangan berjilbab atau pakaian keagamaan lain melanggar hak konstitusional kebebasan beragama. "Ini hari yang baik bagi kebebasan beragama," kata Volker Beck, politikus dari partai oposisi Partai Hijau, seperti dilansir Reuters, Kemarin.
    Gugatan hukum tersebut diajukan seorang guru muslim di Negara Bagian North Rhine-Westphalia, yang kehilangan pekerjaannya akibat larangan tersebut, serta seorang pekerja sosial di negara bagian yang sama,yang mendapatkan surat peringatan dari sekolah tempatnya bekerja.
   Larangan untuk mengenakan jilbab berlaku di 6 dari 16 negara bagian di Jerman. Dua negara bagian lainnya, yakni Berlin dan Hesse, memperluasnya menjadi larangan mengenakan simbol-simbol keagamaan bagi seluruh pegawai negeri.
  Meskipun penggunaan jilbab dilarang, hukum di negara bagian North-Rhine-Westphalia mengizinkan umat Kristen dan Yahudi mengenakan simbol-simbol keagamaan, seperti salib dan topi Yahudi. Pengadilan Jerman mengatakan pengecualian di Negara Bagian North-Rhine-Westphalia tidak bisa dibenarkan oleh konstitusi  lantaran hal itu mendeskriminasi umat.
    Namun para hakim mengatakan larangan terhadap simbol-simbol keagamaan masih berlaku jika hal itu "membahayakan, atau mengganggu kedamaian".
  Nurhan Soykan, Sekretaris Jendral Dewan Pusat Muslim di Jerman, mengatakan keputusan pengadilan tersebut sangat disyukuri.
   "Hal ini merupakan pengakuan realitas kehidupan wanita muslim di Jerman dan mengizinkan mereka berpartisipasi  sebagai warga yang setara dalam kehidupan masyarakat," kata dia. Jumlah muslim di Jerman diperkirakan mencapai 4 juta orang, terutama berasal dari Turki.
     Di Negera-negara Eropa yang sekuler, pakaian wanita muslim menuai perdebatan. Prancis melarang simbol-simbol keagamaan disekolah-sekolah negeri sejak 2004 dan melarang penggunaan cadar di ruang publik pada 2010. Belgia juga melarang penggunaan cadar di muka umum

Sumber : REUTERS | FINANCIAL TIMES

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.